Kaum Perempuan Bangkit Dan Menghantam Imperialisme, Militerisme Untuk Emansipasi Perempuan

Prof Jose Maria Sison
Ketua Liga Internasional Perjuangan Rakyat

Kami, Liga Internasional Perjuangan Rakyat, menyatakan solidaritas dengan kaum perempuan seluruh dunia dan turut serta memperingati 8 Maret, Hari Perempuan Internasional.

Pada tahun 1911, kaum perempuan dari Sosialis Internasional menyatakan Hari Perempuan Pekerja Internasional yang pertama untuk memperjuangkan hak-hak demokratis kaum perempuan dan reform melawan kondisi yang sangat buruk, terutama kaum perempuan pekerja dan anak-anak. Lebih dari seratus tahun kemudian, seruan mereka masih tetap berlaku bagi mayoritas kaum perempuan kelas pekerja sedunia yang harus menghadapi serangan imperialis yang lebih bengis terhadap kehidupan, hak-hak dan kesejahteraan mayoritas rakyat dunia.

Tahun ini, kita memperingati 8 Maret di tengah-tengah titik pusat penting dalam sejarah gerakan perempuan internasional, yaitu revitalisasi gerakan perempuan di Barat, terutama di AS seperti dibuktikan oleh Pawai Perempuan baru –baru ini dan partisipasi tinggi dari kaum perempuan kulit berwarna di berbagai gerakan protes, dari isu hak-hak perempuan, kekerasan berdasarkan pada gender, rasisme, hak-hak sipil, pembelaan terhadap tanah leluhur atau tanah air, melawan fracking dan bentuk-bentuk penghancuran lingkungan lain, penghematan, privatisasi, kerentanan, sampai kepada militerisme dan perang.

Tak diragukan lagi revitalisasi itu didorong oleh krisis kapitalisme yang telah mencapai tingkat baru sejak krisis finans tahun 2008 dan yang telah menimbulkan konsekuensi yang dalam dan merugikan, bahkan bagi kelas pekerja di negeri-negeri imperialis. Krisis sekarang menjadi lebih buruk lagi dengan bangkitnya neo-fasisme, penindasan yang belum pernah terjadi sebelumnya ,terhadap hak-hak kaum migran dan hak demokratis lainnya, meluasnya propaganda kebencian anti-asing dan supremasi kulit putih di bawah presiden Trump.

Sama pentingnya, kita memperingati semangat gerakan kaum wanita tertindas yang terus menerus di negeri-negeri neo-kolonial yang telah berjuang pantang menyerah menentang imperialisme, militerisme dan penindasan politik. Sejarah perjuangan militant mereka sekarang telah menjadi mercu suar dalam perjuangan global kaum perempuan untuk emansipasinya melawan semua bentuk penghisapan dan penindasan. Dengan menolak untuk menerima reform-reform nominal yang dijajakan oleh negeri-negeri imperialis dan Negara-Negara anteknya dengan tujuan membelokkan kaum perempuan dari jalan perjuangan militant, gerakan wanita menjadi lebih bijaksana dan kuat berkat pembelaannya terhadap hak-hak dan kepentingan mayoritas kaum perempuan sedunia, yaitu kaum perempuan kelas pekerja yang paling menderita dampak kebijakan kaum imperialis dan Negara-negara anteknya yang anti demokratis, anti nasional dan anti perempuan.

Imperialisme telah menyebabkan penderitaan kaum perempuan yang tak terhingga. Konsentrasi kekayaan yang terus meningkat di tangan segelintir orang tidak memungkinkan emansipasi perempuan dalam sistim ini. Hasil yang dicapai oleh gerakan pembebasan perempuan tahun 70 dan 80-an telah dengan mudah dikikis oleh kekuasaan politik neoliberal. Kaum perempuan, sama halnya dengan rekan laki-lakinya, bukannya mendapat perbaikan dalam kondisi sosial dan ekonomi, tapi malah menghadapi pengangguran, tuna wisma, pemotongan kesejahteraan sosial dan tindakan serta manifestasi krisis sosial dan krisis ekonomi global lain yang justru lebih gawat.

Situasinya malah jauh lebih buruk lagi bagi jutaan perempuan di negeri-negeri neo-kolonial karena kemiskinan dan kesengsaraan yang mengerikan menandai kehidupan mereka sebagai akibat dari kebijakan ekonomi yang diorientasikan untuk menguntungkan kaum penghisap asing besar dan lokal.

Sementara mereka menderita bersama rekan laki-lakinya, kaum perempuan kelas pekerja harus menanggung dislokasi ekonomi disebabkan karena peran tradisional mereka dalam menjaga keluarganya dan sumber daya komunitas. Korporasi pertambangan besar, korporasi agribisnis dan pengalihan penggunaan tanah untuk industry asing dan perdagangan telah menyebabkan penggusuran komunitas desa secara besar-besaran dan telah mengganggu atau menghancurkan sistim agro-ekologi lokal yang menjamin keamanan makanan. Diusir dari komunitas tradisional dan sumber dayanya, kaum tani perempuan harus mencari pekerjaan yang berarti uang dan waktu untuk perjalanan dan jam kerja yang tidak teratur untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga mereka. Lebih buruk lagi, banyak perempuan didorong untuk bekerja di kota-kota atau di luar negeri. Mereka melakukan pekerjaan yang rendah upahnya dan tidak diatur dalam undang-undang, hal mana membuat mereka mudah menjadi korban pelecehan, diskriminasi, kekerasan, prostitusi dan / atau perdagangan manusia.

Pusat serangan neoliberal terhadap kelas pekerja adalah pukulan kejam untuk menekan upah. Dengan mengimplementasi apa yang disebut skema upah fleksibel di banyak negeri, kenyataannya neoliberalisme telah melucuti kaum pekerja dari hak dasar mereka untuk upah layak. Terutama mereka yang baru masuk angkatan kerja, persentase tinggi diantara mereka adalah perempuan. Neoliberalisme, bukannya menyebarkan kemakmuran dengan apa yang disebut mobilitas modal, tapi kenyataannya justru membuat lebih buruk kondisi kaum pekerja, membuat mereka menjadi budak jaman modern.

Militerisme meningkat disebabkan karena konflik antar-imperialis yang semakin intensif . Konflik ini dipicu oleh krisis kapitalisme global dan karena kaum imperialis berkelahi dan bersaing untuk mendapatkan sumber daya dan negeri-negeri untuk dieksploitasi dan dijarah. Imperialisme AS dewasa ini adalah pemasok utama perang dan militerisme, dengan pengeluaran yang semakin meningkat untuk membiayai kompleks industri militernya, dalam upaya sia-sia untuk lolos dari krisis yang tak ada akhirnya. Hal ini telah memicu perang agresi dan intervensi militer dan politik dengan slogan perang global melawan teror; melatih dan mempersenjatai tentara pengganti dan kelompok paramiliter untuk memicu destabilisasi di negeri-negeri di mana ia memiliki kepentingan ekonomi yang luas atau yang menolak dominasi AS. Kaum elite baik di negeri-negeri asal kapitalisnya sendiri maupun di negeri-negeri anteknya melakukan kekerasan, pemaksaan, penekanan dan penipuan untuk menghancurkan perbedaan politik dan perlawanan.

Seiring dengan meningkatnya militerisme, kekerasan terhadap kaum perempuan dan anak-anak juga melonjak, mereka menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia, termasuk pelecehan seksual oleh kelompok militer dan paramiliter. Negara tidak hanya mengijinkan para spekulan untuk mengeksploitasi perempuan sebagai objek hiburan dan kesenangan seksual pasukan militer tetapi juga menggunakan pemerkosaan sebagai alat penindasan dan penaklukan. Militerisme membangkitkan kebencian terhadap perempuan, chauvinisme laki-laki dan penaklukan dan objektifikasi seksual kotor terhadap wanita.

Besarnya penderitaan rakyat ini telah melahirkan serangkaian protes dan perlawanan, bersenjata dan tidak bersenjata, terhadap kebijakan imperialis di berbagai tempat di dunia. Kaum perempuan memainkan peran penting dalam perlawanan ini, banyak di antara mereka yang berada di barisan terdepan dalam perjuangan lokal dan nasional melawan politik dan program anti-demokrasi dan pro- imperialis. Mereka mengekspos dan menentang skema yang menipu yang menggambarkan perempuan pasif, dan juga reformasi nominal/simbolik yang dimaksudkan untuk membelokkan gerakan perempuan dari perlawanan militan dan berkomitmen terhadap kekuasaan imperialis. Kaum perempuan sedang mengorganisir diri di mana-mana, dan seruan nyaring untuk emansipasi wanita tidak pernah sekuat seperti sekarang..

Berjuang untuk emansipasi perempuan bebas dari patriarki dan segala bentuk penindasan dan penghisapan!
Ganyang imperialisme, militerisme dan fasisme!
Tegakkan hak-hak rakyat dan hak-hak kaum perempuan!
Hidup solidaritas internasional!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.